Presiden Timor Leste Kritik Banyaknya MoU dengan Indonesia yang Minim Realisasi

0
WhatsApp Image 2026-10-24 at 17.56.44

DILI – Presiden Timor Leste, José Ramos-Horta, menghadiri hari kedua penyelenggaraan Festival Fronteira 2026 pada Sabtu (24/10/2026). Dalam sambutannya, Ramos-Horta melayangkan kritik terhadap banyaknya nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) resmi antar-kedua negara yang telah ditandatangani namun minim realisasi. Ia menegaskan agar kedua pihak menghentikan pembuatan MoU baru dan lebih berfokus pada implementasi nyata di lapangan ketimbang sekadar formalitas.

Dalam kegiatan yang juga dihadiri oleh 20 delegasi Forum Komunikasi Pejuang Timor Timur (FKPTT) tersebut, Presiden Ramos-Horta menyampaikan tiga poin utama terkait arah hubungan bilateral Timor Leste dan Indonesia.

Pertama, Ramos-Horta menegaskan bahwa dirinya tidak ingin lagi berfokus pada wacana rekonsiliasi formal. Menurutnya, dialog rekonsiliasi secara politik telah terjalin erat sejak tahun 1999 bersama para pemimpin Indonesia, mulai dari era Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Megawati Soekarnoputri, hingga Susilo Bambang Yudhoyono. Ia mengimbau bagi pihak-pihak yang merasa masih memiliki persoalan masa lalu agar menyelesaikannya melalui pendekatan kekeluargaan dan adat. “Silakan duduk di bawah pohon dan selesaikan,” ujarnya.

Kedua, ia menekankan bahwa hubungan sosial dan ekonomi antara masyarakat Indonesia dan Timor Leste saat ini sudah sangat harmonis serta aman. Kondisi positif ini dibuktikan dengan adanya lebih dari 10.000 pelajar Timor Leste yang menuntut ilmu di Indonesia tanpa kendala. Selain itu, aktivitas ekonomi di wilayah perbatasan juga berjalan sangat hidup, ditandai dengan tingginya mobilitas warga Timor Leste yang rutin berbelanja ke Atambua setiap akhir pekan. Dalam nada kelakar, Ramos-Horta bahkan mengaku sangat menyukai kuliner di Atambua, termasuk menikmati hidangan KFC di sana yang dinilainya lebih enak daripada di New York.

Poin ketiga yang menjadi sorotan utama adalah desakannya terkait efektivitas kerja sama resmi agar tidak mandek pada lembaran kertas kesepakatan semata, melainkan diwujudkan dalam program-program yang konkret bagi kedua negara.

Rangkaian agenda hari kedua festival ini juga diisi dengan Seminar “Proses Rekonsiliasi (PRT)”. Seminar tersebut secara khusus membahas pendekatan kultural Nahe Biti Boot serta melakukan evaluasi terhadap Deklarasi Ambeno 2024. Suasana hangat hari kedua Festival Fronteira 2026 ini kemudian ditutup dengan sesi foto bersama antara Presiden Ramos-Horta dengan seluruh peserta serta undangan yang hadir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *