Home / Internasional / Kondisi Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei Jadi Tanda Tanya Besar Setelah Menghilang 1,5 Bulan

Kondisi Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei Jadi Tanda Tanya Besar Setelah Menghilang 1,5 Bulan

NTTLine – Lebih dari 1,5 bulan sejak ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei belum pernah muncul langsung di ruang publik. Ia menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, yang meninggal dalam serangan awal Amerika Serikat-Israel pada 28 Februari 2026. Mojtaba resmi menjabat pada 9 Maret 2026. Namun, hingga kini, masyarakat Iran belum melihat penampilannya secara langsung.

Laporan CNN pada Rabu (22/4/2026) menyebut ketidakhadiran ini berbeda dengan Ali Khamenei yang selama puluhan tahun aktif tampil, menyampaikan pidato, dan mengambil keputusan negara secara terbuka.  Pernyataan hanya lewat televisi Di tengah situasi konflik yang masih berlangsung, Mojtaba Khamenei justru mencolok karena jarang terlihat.

Mengutip Al Jazeera, pernyataan pertamanya disampaikan melalui pembawa berita di Press TV pada Kamis (12/3/2026). Pesan tersebut mencakup seruan persatuan nasional, peringatan terhadap pangkalan militer AS, hingga penegasan bahwa Iran akan terus berjuang. Sejak saat itu, pernyataan yang dikaitkan dengannya hanya disiarkan melalui televisi nasional atau media sosial. Ketidakhadirannya semakin memicu spekulasi setelah muncul video berbasis kecerdasan buatan (AI) yang seolah menampilkan dirinya sedang berbicara.

Sumber CNN menyebut Mojtaba Khamenei mengalami patah kaki, memar di mata kiri, serta luka ringan di wajah. Cedera tersebut diduga akibat gelombang serangan yang sama yang menewaskan ayahnya dan sejumlah petinggi militer Iran. Meski demikian, laporan Reuters menyebut ia tetap mengikuti rapat dengan pejabat senior melalui konferensi audio dan terlibat dalam pengambilan keputusan, termasuk terkait perang dan negosiasi dengan Amerika Serikat.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan mengenai sejauh mana keterlibatannya dalam pemerintahan. Direktur Proyek Iran di International Crisis Group, Ali Vaez, menilai Mojtaba kemungkinan tidak berada dalam kondisi untuk mengambil keputusan krusial secara langsung. Menurutnya, peran Mojtaba lebih sebagai pemberi persetujuan akhir atas keputusan besar, bukan pengatur strategi teknis dalam negosiasi.
“Dia digunakan untuk memberikan legitimasi keputusan, bukan untuk mengatur taktik perundingan,” ujar Vaez.

Ia juga menilai, sosok Mojtaba yang jarang terlihat justru dimanfaatkan sebagai “pelindung” bagi para negosiator dari kritik internal.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa Iran telah mengalami perubahan rezim setelah kematian Ali Khamenei. Ia juga menyebut, delegasi Iran yang bernegosiasi saat ini sebagai pihak yang lebih rasional. Namun, perundingan antara AS dan Iran di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan.

Rencana pertemuan lanjutan pada 22 April 2026 juga batal karena delegasi Iran tidak hadir. Iran menyatakan tidak akan melanjutkan negosiasi selama blokade angkatan laut AS belum dicabut. Di tengah situasi ini, pemerintah Iran berupaya menunjukkan soliditas. Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf ditunjuk memimpin negosiasi, didampingi Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.

Kebingungan di dalam negeri Ketidakjelasan peran pemimpin tertinggi turut memicu kebingungan di dalam negeri. Pernyataan Araghchi bahwa Selat Hormuz tetap terbuka untuk pelayaran komersial menuai kritik. Media lokal menilai keputusan tersebut seharusnya mendapat persetujuan dari kepemimpinan tertinggi. Spekulasi mengenai konflik internal pun muncul, meski pemerintah menegaskan bahwa kondisi tetap solid. Analis dari German Institute for International and Security Affairs, Hamidreza Azizi, menilai para pejabat Iran saat ini berada dalam posisi sulit.

“Mereka harus menyeimbangkan tekanan domestik dan eksternal dalam situasi yang sangat kompleks,” ujarnya.

Sementara itu, Vaez menilai kondisi Iran saat ini masih dalam fase bertahan. Menurutnya, sosok pemimpin tertinggi yang “tak terlihat” justru memberikan ruang bagi para pejabat untuk berlindung dari kritik. “Tidak ada yang bisa membantah seseorang yang tidak terlihat,” kata Vaez.  Kompas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *