Home / Ekbis / Dianggap Ancaman Bagi Pekerja Manusia, Jeff Bezos Punya Pandangan Berbeda Mengenai AI

Dianggap Ancaman Bagi Pekerja Manusia, Jeff Bezos Punya Pandangan Berbeda Mengenai AI

NTTLine – Kecerdasan buatan (AI) belakangan sering dianggap sebagai ancaman bagi masa depan para pekerja manusia. Namun, miliarder sekaligus pendiri marketplace Amazon, Jeff Bezos, justru memiliki pandangan yang berbeda. Menurut Bezos, para karyawan seharusnya merasa sangat bersyukur dan bahagia atas kehadiran teknologi AI.

Ia meyakini bahwa mesin pintar tersebut tidak akan merebut pekerjaan manusia, melainkan justru mengangkat derajat beban kerja mereka. Pernyataan ini dilontarkan Bezos dalam sebuah wawancara dengan CNBC. Ia menganalogikan kehadiran AI layaknya alat berat yang diberikan secara gratis untuk meringankan pekerjaan kasar manusia.

 

“Jika Anda selama ini menggali ruang bawah tanah menggunakan sekop, dan tiba-tiba seseorang memberi Anda sebuah buldoser, Anda seharusnya sangat bahagia,” tutur Bezos, sebagaimana dikutip dari KompasTekno dari kanal YouTube CNBC Television. Bos Blue Origin itu meramalkan bahwa produktivitas ekonomi dunia akan melonjak drastis berkat dorongan AI. Lonjakan ini diprediksi bakal menekan harga berbagai kebutuhan pokok menjadi jauh lebih murah.

 

Ia bahkan memproyeksikan terjadinya deflasi pada sektor-sektor utama, mulai dari pangan hingga konstruksi perumahan. Menurut perhitungannya, efisiensi harga ini akan membuat biaya hidup menjadi sangat terjangkau. Alhasil, dalam keluarga dengan penghasilan ganda, salah satu pasangan pada akhirnya bisa memilih untuk berhenti bekerja dengan sukarela.

 

Keluarnya sebagian pekerja dari pasar tenaga kerja ini justru diklaim akan memicu kekurangan tenaga kerja, alih-alih menyebabkan pengangguran massal seperti yang ditakutkan banyak orang. Pekerjaan profesional seperti software engineer pun tidak akan mati.

 

Menurut Bezos, tugas manusia hanya akan naik level menjadi perumus masalah, sementara eksekusi penulisan kodenya akan diserahkan kepada “buldoser” AI. Meski begitu, Bezos memberikan satu syarat utama agar skenario tersebut bisa terwujud. Ia mendesak pemerintah untuk membiarkan teknologi ini berkembang bebas dan tidak terlalu cepat mengekangnya dengan regulasi.

 

Ia mencontohkan bagaimana AI otonom kelak bisa merevolusi rumitnya birokrasi, seperti memangkas proses perizinan bangunan dari hitungan tahun menjadi putusan analisis hanya dalam sepuluh detik. Namun, narasi super optimis dari Bezos ini mendapat sorotan dan kritik tajam dari sejumlah pihak. Laporan media teknologi menyoroti adanya ironi besar di balik janji manis sang bos raksasa e-commerce tersebut.

 

Di saat Bezos memuji AI sebagai “hadiah” yang bikin sejahtera, Amazon dan sejumlah raksasa teknologi lainnya justru tengah gencar melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap puluhan ribu karyawan. Narasi efisiensi dan AI kerap dijadikan tameng oleh perusahaan teknologi untuk menekan ongkos operasional dengan cara merampingkan tenaga kerjanya. “Alih-alih memberikan buldoser kepada pekerjanya, perusahaan-perusahaan teknologi saat ini tampaknya lebih memilih untuk melindas pekerjanya dengan alat berat tersebut,” ujar seorang pengamat. Kompas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *