NTTLine – Anggota Komisi IV DPRD Kota Kupang, Dominika W. Bethan, mendesak Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kupang untuk segera mengintensifkan sosialisasi serta upaya pencegahan terhadap penyakit Diare dan Demam Berdarah Dengue (DBD). Desakan ini disampaikan menyusul meningkatnya kasus kedua penyakit tersebut yang kerap berulang setiap musim hujan dan menunjukkan tren lonjakan yang mengkhawatirkan.
Dominika menilai, peningkatan kasus penyakit berbasis lingkungan ini tidak boleh dianggap sebagai kejadian rutin semata, melainkan harus ditangani secara serius dan sistematis. Berdasarkan data yang ada, pada awal tahun 2024 tercatat sedikitnya 15 kasus DBD di Kota Kupang. Situasi memburuk pada awal tahun 2025, di mana dua warga Kota Kupang dilaporkan meninggal dunia akibat komplikasi penyakit DBD. Secara regional, jumlah kasus DBD di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mencapai 616 kasus.
“Data ini menunjukkan bahwa upaya pencegahan harus segera diperkuat. Kita tidak bisa menunggu sampai angka kasus terus bertambah dan menelan korban jiwa,” ujar Dominika, Senin (31/01/2026)
Menurutnya, kunci utama pengendalian penyakit Diare dan DBD terletak pada pencegahan sejak dini yang dimulai dari tingkat komunitas. Untuk itu, ia mendorong Dinkes Kota Kupang agar mengoptimalkan seluruh infrastruktur kesehatan yang tersedia, mulai dari Puskesmas hingga Posyandu.
“Saya berharap Dinkes dapat mendorong seluruh Fasilitas Kesehatan (Faskes), baik Puskesmas maupun Posyandu, agar secara aktif dan masif memberikan sosialisasi kepada masyarakat. Inti pesannya adalah pentingnya menjaga kebersihan lingkungan secara berkelanjutan guna mencegah penyebaran penyakit tersebut,” tegasnya.
Dominika menambahkan, Komisi IV DPRD Kota Kupang akan menjadikan isu ini sebagai fokus utama pengawasan, dengan tujuan memutus mata rantai penularan penyakit. Ia menekankan bahwa kebersihan lingkungan berperan sangat penting dalam mengendalikan perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor DBD, sekaligus mencegah penyebaran kuman penyebab Diare.
“Jika kesadaran masyarakat terhadap kebersihan lingkungan terus ditingkatkan dan didukung oleh sosialisasi yang masif, maka risiko penyakit ini dapat ditekan secara signifikan,” pungkasnya. Onel













