Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menuding Iran gagal memenuhi kesepakatan gencatan senjata karena dinilai tidak maksimal dalam membuka Selat Hormuz. Kecaman tersebut disampaikan Trump melalui rangkaian unggahan di media sosial Truth Social pada Kamis (9/4/2026), sebagaimana dilansir Reuters. “Iran melakukan pekerjaan yang sangat buruk, bahkan ada yang menyebutnya tidak terhormat, dalam mengizinkan minyak melewati Selat Hormuz,” tulis Trump.
Setelah AS dan Iran menyepakati gencatan senjata pada Rabu (8/4/2026), Teheran dilaporkan hendak berniat memberlakukan tarif tol bagi kapal-kapal yang melintas. “Ada laporan bahwa Iran mengenakan biaya kepada kapal tanker yang melewati Selat Hormuz, sebaiknya tidak demikian. Dan, jika memang benar, mereka lebih baik berhenti sekarang,” tulis Trump dalam unggahan lainnya.
Di samping itu, baru 10 kapal yang disebut berhasil melintas selat sempit yang penting tersebut sejak gencatan senjata berlaku. Nada bicara Trump di media sosial ini tampak jauh lebih keras dibandingkan wawancara teleponnya dengan NBC News sebelumnya.
Trump mengaku sangat optimistis mengenai perdamaian dengan Iran. Dia juga menyebut para pemimpin Iran saat ini jauh lebih masuk akal saat melakukan komunikasi secara tertutup. Akan tetapi, kini Trump melontarkan kritik keras kepada Teheran selang beberapa hari setelah kedua belah pihak menyepakati gencatan senjata. Di sisi lain, upaya diplomasi formal pasca-gencatan senjata yang diagendakan tetap berjalan.
Wakil Presiden AS JD Vance dijadwalkan mengadakan pembicaraan dengan pihak Iran di Pakistan. Dia akan didampingi oleh utusan khusus Trump, Steve Witkoff, dan menantu Trump, Jared Kushner. Juru Bicara Gedung Putih Anna Kelly menyatakan bahwa Trump masih menaruh harapan pada proses ini. “Presiden optimistis bahwa kesepakatan dapat dicapai yang dapat mengarah pada perdamaian abadi di Timur Tengah,” ujar Kelly dalam pernyataan resmi.
Di satu sisi, situasi di lapangan masih memanas. Kurang dari 48 jam setelah gencatan senjata dimulai, Israel meluncurkan serangan udara besar-besaran di Lebanon yang menewaskan ratusan orang pada Rabu. Terkait hal ini, Trump mengklaim telah berbicara dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Menurut Trump, Netanyahu setuju untuk menahan diri terhadap Lebanon setelah serangan besar tersebut. Sebagai tindak lanjut, pejabat Kementerian Luar Negeri AS mengonfirmasi bahwa perwakilan Israel dan Lebanon akan mengadakan pembicaraan lebih lanjut di Washington pada pekan depan. Hal tersebut dilakukan guna memperkuat gencatan senjata yang saat ini masih tampak goyah. Kompas













